Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Benarkah Asiyah, Istri Dari Fir'aun Ini Dijamin Masuk Surga Oleh Allah SWT? Ini Penjelasan dan Sejarahnya ...


Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman. Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.

Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Fir’aun. Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.

Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka, “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?” Mereka menyanjungnya.Lalu Fir’aun berkata lagi kepada mereka,“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.” Berkatalah mereka kepadanya,“Bunuhlah dia!”

Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.

Dimulailah siksaan itu, Fir’aun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah…saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik dan bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mugkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu.

Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap? Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.

Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala. Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Fir’aun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.

Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdo’a memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Qur’an,

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11)

Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Fir’aun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Fir’aun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.

Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Saudariku..tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.

Saudariku..tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu? Apakah kita tidak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita untuk meraih janji Allah Ta’ala, surga dan kenikmatannya.

Saudariku…jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita. Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman. Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita. Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.

Sumber: https://muslimah.or.id/439-asiyah-wanita-yang-ditampakkan-surga-untuknya.html

Hati - Hati, Ternyata Begini Hukumnya Membaca Al-Qur'an Di SIsi Kuburan!


Yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita, sebagian yang ziarah kubur sering membawa Qur’an –terutama surat Yasin-, lalu membacanya di sisi kubur. Kita sepakat bahwa Al Qur’an adalah kalamullah dan surat Yasin adalah surat yang baik, mengandung pelajaran dan hikmah-hikmah penting di dalamnya. Namun apakah ketika ziarah kubur dituntunkan demikian? Ataukah ada tuntunan atau ajaran lainnya dari Rasul kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam?

Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya, “Apakah membaca Al Qur’an di sisi kubur termasuk amalan yang tidak dituntunkan khususnya surat Fatihah dan Al Baqarah? Karena setahu saya setelah membaca kitab Ar Ruh karya Ibnul Qayyim bolehnya membaca Qur’an ketika pemakaman mayit dan setelah pemakaman. Beliau menyebutkan bahwa para salaf menasehati agar membaca Al Qur’ah ketika pemakaman.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,
Membaca Al Qur’an di sisi kubur adalah di antara amalan yang tidak dituntunkan sehingga tidak boleh kita lakukan. Kita tidak boleh pula shalat di sisi kubur karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan seperti itu. Begitu pula hal tersebut tidak pernah dituntunkan oleh khulafaur rosyidin (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen). Karena amalan tadi hanyalah dilakukan di masjid dan di rumah sebagaimana sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,
اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
“Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kubur” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777). Hadits ini menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk shalat dan juga bukan tempat untuk membaca Al Qur’an.  Amalan yang disebutkan ini merupakan amalan khusus di masjid dan di rumah. Yang hendaknya dilakukan ketika ziarah kubur adalah memberi salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan pada mereka.[1]

Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah penguburan mayit, beliau berhenti di sisi kubur dan berkata,
اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ
“Mintalah ampun pada Allah untuk saudara kalian dan mintalah kekokohan (dalam menjawab pertanyaan kubur). Karena saat ini ia sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 2758. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Beliau sendiri tidak membaca Al Qur’an di sisi kubur dan tidak memerintahkan untuk melakukan amalan seperti ini..

Memang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -jika  riwayat tersebut shahih- bahwa beliau melakukan seperti itu, alasan ini tidak bisa dijadikan pendukung. Karena yang namanya ibadah ditetapkan dari sisi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dari Al Qur’an. Perkataan sahabat tidak selamanya menjadi pendukung, begitu pula selainnya selain khulafaur rosyidin. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai khulafaur rosyidin,
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Wajib atas kalian berpegang tegus dengan ajaranku dan juga ajaran khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat ajaran tersebut dengan gigi geraham kalian” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Ajaran khulafaur rosyidin bisa jadi pegangan selama tidak menyelisihi ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan sahabat lainnya, maka itu tidak selamatnya  bisa menjadi pegangan dalam hal ibadah. Karena sekali lagi, ibadah adalah tauqifiyah, mesti dengan petunjuk dalil. Ibadah itu tauqifiyyah, diambil dari Al Qur’an dan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Adapun perkataan Ibnul Qayyim dan sebagian ulama lainnya, itu tidak bisa dijadikan sandaran. Dalam masalah semacam ini hendaklah kita berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah. Amalan yang menyelisihi keduanya adalah amalan tanpa tuntunan. Jadi, kita tidak boleh shalat di sisi kubur, membaca Al Qur’an di tempat tersebut, berthawaf mengelilingi kubur, dan tidak boleh pula berdo’a kepada selain Allah di sana. Tidak boleh seorang muslim pun beristighotsah dengan berdo’a kepada penghuni kubur atau si mayit. Tidak boleh pula seseorang bernadzar kepada penghuni kabar karena hal ini termasuk syirik akbar. Sedangkan berdo’a di sisi kubur atau berdo’a pada Allah di sisi kubur termasuk amalan yang mengada-ngada.

Lalu Syaikh rahimahullah ditanya oleh salah satu muridnya, “Apalah Imam Ahmad telah rujuk secara perbuatan dari pendapat yang membolehkan berdo’a di sisi kubur? Jazakumullah khoiron, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Diriwayatkan mengenai hal ini, namun aku sendiri tidak mengetahui keshahihannya seandainya  beliau rujuk. Namun jika beliau membolehkannya (berdo’a di sisi kubur), maka beliau keliru, sama halnya dengan ulama lainnya. Dan Ibnu ‘Umar sendiri lebih afdhol dari Imam Ahmad.  Sekali lagi, pegangan kita dalam ibadah adalah dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’: 59).

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (dikembalikan) kepada Allah.” (QS. Asy Syura: 10).

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.” (QS. Al Hasyr: 7). Amalan ini adalah permasalahan ibadah dan permasalah yang urgent sehingga seharusnya setiap muslim kembalikan pada ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yang suci.

Ada yang bertanya lagi pada Syaikh Ibnu Baz, “Apakah engkau berpegang pada madzhab tertentu?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Fatwa yang kukeluarkan tidaklah berdasarkan pada madzhab tertentu, aku tidak berpegang pada madzhab Imam Ahmad dan imam lainnya. Yang selalu jadi peganganku adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik pendapat tersebut terdapat pada madzhab Ahmad, Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, atau Zhohiriyah atau pada sebagian ulama salaf di masa silam. Yang selalu jadi peganganku adalah dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Saya tidak selalu berpegang pada madzhab Hambali atau madzhab lainnya. Sandaranku sekali lagi adalah pada firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang menjadi petunjuk dari kedua dalil tersebut dalam berbagai hukum. Inilah kewajiban yang harus diikuti setiap penuntut ilmu.

[Referensi: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/9920]

Fatwa di atas mengajarkan pada kita suatu pedoman yang penting dalam beragama. Hendaknya kita berpegang teguh pada dalil. Perkataan ulama atau ulama madzhab tidak selamanya bisa menjadi pegangan jika menyelisihi ajaran Al Qur’an dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berbeda dengan sikap sebagian orang yang terlalu fanatik buta pada madzhab tertentu. Padahal para imam madzhab sendiri tidak memerintahkan kita untuk ikut pendapatnya, yang mereka anjurkan adalah ikutilah dalil.

Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf berkata, “Tidak boleh bagi seorang pun mengambil perkataan kami sampai ia mengetahui dari mana kami mengambil perkataan tersebut (artinya sampai diketahui dalil yang jelas dari Al Quran dan Hadits Nabawi, pen).”[2]

Imam Malik berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[3]

Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i berkata, “Jika hadits itu shahih, itulah pendapatku.”[4]

Imam Asy Syafi’i berkata, “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”[5]

Terdapat riwayat shahih dari Imam Asy Syafi’i, beliau sendiri mengatakan, “Jika ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi pendapatku, maka beramallah dengan hadits tersebut dan tinggalkanlah pendapatku.” Dalam riwayat disebutkan, “Pendapat (yang sesuai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tersebut itulah sebenarnya yang jadi pendapatku.” Perkataan ini disebutkan oleh Al Baihaqi, beliau mengatakan bahwa sanadnya shahih[6].

Imam Ahmad berkata, “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan.”[7]

Sekali lagi ulama dan imam madzhab bukanlah Rasul yang setiap perkataannya harus diikuti, apalagi jika menyelisihi  dalil. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.”[8]

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.


Sumber : https://rumaysho.com/2242-membaca-al-quran-di-sisi-kubur.html

Astaghfirullah, Ini Yang Akan Terjadi Jika Seorang Muslim Tidak Berpuasa Ramadhan


Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/perjalanan jauh). Yang menunjukkan bahwa puasa Ramadhan adalah wajib yaitu firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

Hal ini dapat dilihat pula pada pertanyaan seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang badui ini datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berambut kusut, kemudian dia berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Beritahukan aku mengenai puasa yang Allah wajibkan padaku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا

”(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunnah (maka lakukanlah).” (HR. Bukhari)

Dan kaum muslimin juga telah sepakat tentang wajibnya puasa ini dan sudah ma’lum minnad dini bidhoruroh yaitu seseorang akan kafir jika mengingkari wajibnya hal ini. Puasa ramadhan ini tidak gugur bagi orang yang telah dibebani syari’at kecuali apabila terdapat ‘udzur (halangan). Di antara ‘udzur sehingga mendapatkan keringanan dari agama ini untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian jauh (safar), sedang sakit, orang yang sudah berumur lanjut (tua renta) dan khusus bagi wanita apabila sedang dalam keadaan haidh, nifas, hamil atau menyusui (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/89, 118-127)

Peringatan bagi Orang yang Sengaja Membatalkan Puasa

Pada zaman ini kita sering melihat banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan kewajiban yang agung ini. Jika kita lihat di bulan Ramadhan di jalan-jalan ataupun tempat-tempat umum, banyak orang yang mengaku muslim tidak melakukan kewajiban ini atau sengaja membatalkannya. Mereka malah terang-terangan makan dan minum di tengah-tengah saudara mereka yang sedang berpuasa tanpa merasa berdosa sama sekali. Padahal mereka adalah orang-orang yang diwajibkan untuk berpuasa dan tidak punya halangan sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang bukan sedang bepergian jauh, bukan sedang berbaring di tempat tidur karena sakit dan bukan pula orang yang sedang mendapatkan halangan haidh atau nifas. Mereka semua adalah orang yang mampu untuk berpuasa.

Sebagai peringatan bagi saudara-saudaraku ini yang masih saja enggan untuk menahan lapar dan dahaga pada bulan yang diwajibkan puasa bagi mereka, kami bawakan sebuah kisah dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu. Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25).

Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali. Renungkanlah hal ini, wahai saudaraku!

Sumber : https://rumaysho.com/403-akibat-enggan-menunaikan-puasa-ramadhan.html

Subhanallah, Ternyata Inilah Alasan Kenapa Lantai Masjidil Haram Selalu Dingin Walaupun Cuaca Sangat Panas


Setiap orang yang pernah melakukan Ibadah umrah atau Haji, mungkin mereka akan menyadari kesejukan saat kaki menyentuh lantai marmer Masjidil Haram dan sekitar Kabah di Kota Mekah. 

Banyak kalangan berdebat perihal alasan di balik rasa dingin tersebut. Umumnya mereka berargumen hal itu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan teknologi karena Arab Saudi dikaruniai musim panas dengan suhu yang membakar.

Pihak berwenang telah menyanggah klaim bahwa alasan alasan sebenarnya dibalik kesejukan itu adalah serangkaian pipa yang dialiri air dingin yang terletak di bawah lantai marmer.

Kantor General Presidency untuk Urusan Dua Masjid Suci mengatakan kepada Al Arabiya bahwa alasan utama adalah jenis marmer yang digunakan. Arab Saudi mengimpor  marmer langka Thassos dari Yunani yang dapat memantulkan sinar matahari dan memadamkan hawa panas sepanjang hari.

Pulau Thasoss dikenal memiliki warisan marmer sejak ribuan tahun silam. Marmer Thassos dikenal di seluruh dunia karena kualitasnya yang tembus pandang. Dan para turis bisa menyaksikan berpuluh-puluh lori dipenuhi lempengan marmer raksasa di pelabuhan Thassos.


Marmer Thassos digunakan secara luas untuk membangun kuil dan rumah ibadah agama lainnya serta bangunan-bangunan pemerintahan yang penting. Dari abad I sebelum masehi hingga abad III setelah masehi sejumlah besar marmer Thassos diimpor oleh Bangsa Romawi yang mengagumi warna putih saljunya yang lembut.

Sumber : https://tekno.tempo.co/read/news/2017/01/30/061841218/terungkap-penyebab-sejuknya-lantai-masjidil-haram

Inilah Bahaya Minum Dan Makan Sambil Berdiri

Anda sering makan atau minum sambil melakukan aktivitas lain?
Atau makan minum sambil berdiri? Hati-hati, ternyata makan dan minum tidak sambil duduk bisa memicu gangguan kesehatan, lho.
Seperti yang dijelaskan Desy Nur Arsita, nutritionist dan dietitian dari SlimGourmet Catering, tentu ada pengaruh yang ditimbulkan apabila kita makan dan minum sambil berdiri, duduk, atau berbaring.
"Pada saat kita mengonsumsi makanan atau minuman sambil berdiri, hal ini akan menyebabkan makanan atau minuman masuk terlalu cepat dan jatuh dengan keras di lambung hingga ke pencernaan berikutnya," jelasnya.
Hal ini akan memicu iritasi pada dinding lambung, sehingga akan memicu berbagai keluhan lainnya.
"Apabila dinding lambung mengalami iritasi, tentu akan membuat rasa tidak nyaman, asam lambung jadi meningkat, rasa mual, bahkan muntah," imbuhnya.
Tak hanya sambil berdiri, makan dan minum sambil berbaring pun tentu akan memicu berbagai keluhan.
"Posisi alat cerna akan berada pada posisi sejajar. Selain membuat rasa tidak nyaman, hal ini dapat menyebabkan reflux atau makanan kembali naik ke kerongkongan bahkan juga muntah," jelasnya.
Desy menyarankan posisi terbaik saat Anda makan dan minum adalah sambil duduk.
"Pada saat duduk, pencernaan lebih relaks dan tenang dalam mencerna makanan sehingga makanan dapat dicerna dengan baik pada sistem pencernaan. Hal ini tentu tidak akan mengakibatkan hal-hal yang bisa terjadi seperti yang disebutkan tadi," kata dia.
sumber : http://www.tribunnews.com/kesehatan/2017/06/04/ternyata-makan-dan-minum-sambil-berdiri-bisa-picu-gangguan-kesehatan
Tips Aman Puasa Bagi Ibu Hamil Dan Tetap Bugar

Tips Aman Puasa Bagi Ibu Hamil Dan Tetap Bugar

Tips aman puasa bagi ibu hamil dan tetap bugar - alodokterDalam islam, berpuasa berarti tidak makan dan minum sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Puasa bagi ibu hamil dan juga ibu menyusui, sebenarnya dapat digantikan di hari lain atau  dapat digantikan dengan  membayar uang fidyah kepada orang yang kurang mampu.
Salah satu penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil menunjukkan bahwa berpuasa selama bulan Ramadhan tidak mempengaruhi berat, panjang dan ukuran kepala janin. Meski demikian, ada peningkatan risiko bayi dengan berat badan lahir rendah bila ibu hamil trimester pertama menjalani puasa.
Jika ibu hamil yang akan menjalankan puasa memiliki berat badan dan gaya hidup yang baik, atau si ibu memiliki cadangan energi yang cukup, maka  berpuasa tidak akan banyak berpengaruh karena tubuh ibu akan bisa memenuhi nutrisi yang dibutuhkan janin. Yang penting untuk diperhatikan saat akan berpuasa adalah usia kehamilan dan lamanya berpuasa.
Berikut beberapa tips puasa bagi ibu hamil agar tetap bugar:
  • Tetap tenang tenang  dan hindari stress selama berpuasa. Penelitian menunjukkan  bahwa wanita hamil yang berpuasa memiliki hormon stress yang lebih tinggi.
  • Upayakan untuk berada di dalam ruangan yang sejuk untuk menghindari risiko terjadinya dehidrasi. Dehidrasi pada ibu hamil dapat membahayakan
  • Hindari mengangkat Jika Anda merasa lelah, maka cobalah untuk rileks dan beristirahat sejenak.
  • Untuk ibu hamil yang bekerja, periksa kemungkinan kantor dapat mengurangi jam kerja atau memberikan waktu istirahat ekstra selama bulan puasa.
  • Pilihan makanan saat sahur dan berbuka sangat penting bagi ibu hamil yang Disarankan mengonsumsi makanan karbohidrat kompleks dan makanan yang mengandung serat tinggi, seperti seperti produk gandum utuh, sayuran dan buah kering.
  • Hindari makanan manis karena dapat membuat kadar gula darah naik dan turun dengan cepat. Perubahan kadar gula darah yang terlalu cepat dapat menyebabkan lemas dan pusing.
  • Penuhi kebutuhan protein dari kacang-kacangan, telur dan daging yang sudah matang.
  • Cukupi kebutuhan air per hari sekitar 1,5-2 liter pada saat sahur dan berbuka. Hindari minuman berkafein seperti teh dan kopi, karena dapat memicu terjadinya dehidrasi.
Ibu hamil yang berpuasa harus memperhatikan gejala-gejala yang mungkin membahayakan janin. Gejala yang dapat terjadi antara lain pusing, demam, muntah, lemas, lelah, ataupun ibu hamil merasa sangat haus yang merupakan tanda dehidrasi.
Waspadai juga jika terdapat penurunan berat badan pada ibu hamil yang berpuasa, perubahan gerakan janin dalam kandungan, serta rasa nyeri pada perut seperti terjadinya kontraksi. Jika terjadi gejala-gejala tersebut, seharusnya segera berkonsultasi dengan dokter.
sumber : http://www.alodokter.com/tips-aman-puasa-bagi-ibu-hamil-dan-tetap-bugar
Tingkatkan Sistem Imun Dan Atasi Lelah Saat Berpuasa Dengan Nutrisi Berikut

Tingkatkan Sistem Imun Dan Atasi Lelah Saat Berpuasa Dengan Nutrisi Berikut

Puasa Ramadhan menjadi salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap umat muslim. Umat Islam menjalankannya dengan berpuasa selama sebulan penuh, dari terbit fajar (imsak) hingga matahari tenggelam atau saat adzan maghrib berkumandang. Puasa selama bulan Ramadhan bisa membawa efek baik untuk kesehatan Anda jika dilakukan dengan benar. Salah satu manfaat berpuasa bagi kesehatan adalah dapat menurunkan berat badan dengan membakar lemak untuk menghasilkan energi. Selain lemak, kadar kolesterol dan tekanan darah Anda juga akan berkurang. Tingkat endorfin akan bertambah setelah beberapa hari berpuasa, kondisi ini dapat membuat Anda lebih waspada dan memberikan perasaan sehat secara keseluruhan.
Kendati memiliki banyak manfaat kesehatan, menjalankan puasa ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Lazimnya, di awal puasa atau selama puasa Ramadhan, sebagian orang akan mengalami rasa lelah, lemas, mengantuk, sembelit, pusing, hingga dehidrasi, terutama ketika tubuh kekurangan asupan nutrisi, vitamin dan mineral. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan melemahnya sistem imun tubuh sehingga tubuh menjadi rentan terhadap infeksi yang dapat menyebabkan tubuh terasa lelah, lemas, dan mengantuk seharian.
Atasi lelah dan Tingkatkan Sistem Imun
Agar ibadah puasa berjalan baik dan tidak mengganggu kesehatan, kita membutuhkan asupan nutrisi seimbang serta cairan yang cukup. Untuk mencegah kerusakan otot, makanan harus mengandung cukup kalori. Pastikan makanan dan minuman Anda saat sahur dan buka puasa mengandung nutrisi, vitamin, dan mineral yang cukup. Misalnya buah dan sayuran, daging, ikan, susu, makanan yang mengandung karbohidrat, kaya serat, lemak, dan gula. Pasalnya, makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dapat membantu melepaskan energi secara perlahan selama puasa berjam-jam.
Saat berpuasa, tubuh sangat memerlukan nutrisi dan vitamin, salah satu vitamin yang penting untuk tubuh adalah vitamin C. Vitamin C efektif untuk melindungi sistem kekebalan tubuh, mencegah penyakit kardiovaskular, masalah kehamilan, penyakit mata, hingga masalah kulit. Kadar vitamin C dapat menjadi penanda gizi yang ideal untuk kesehatan tubuh  Anda.
Berikut ini adalah fungsi dari vitamin C untuk tubuh Anda:
  • Melindungi sel tubuh dan menjaganya tetap sehat.
  • Terkait dalam produksi kolagen untuk memelihara jaringan ikat yang penting dalam menjaga kekuatan organ tubuh seperti kulit, tulang, dan pembuluh darah.
  • Membantu penyembuhan luka.
  • Meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan yang kita konsumsi.
  • Melindungi kerusakan akibat radikal bebas, kimia beracun, dan polutan seperti asap rokok. Radikal bebas sendiri juga berpotensi meningkatkan risiko menderita kanker, penyakit jantung, dan arthritis.
Sementara itu, suplemen zinc dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pertumbuhan tubuh dan menjaga kesehatan. Zinc adalah sejenis logam yang berguna untuk membantu kerja sistem imun dan terbukti membantu mengurangi angka kematian akibat pneumonia dan diare, serta mencegah infeksi pernapasan. Kekurangan zinc dapat menyebabkan penglihatan malam yang buruk, lamanya masa penyembuhan luka, penurunan indera perasa dan penciuman, kemampuan melawan infeksi menurun, dan perkembangan organ reproduksi yang buruk.
Mengingat pentingnya vitamin C dan zinc untuk menjaga sistem imun Anda, tentunya Anda tidak ingin kekurangan nutrisi tersebut saat berpuasa. Kekurangan vitamin C dan zinc dapat menyebabkan Anda  berisiko terkena penyakit dan pada akhirnya semakin menyebabkan Anda merasa lelah dan lemah saat berpuasa. Sumber utama  vitamin C dan zinc sebenarnya bisa didapatkan dengan mengonsumsi berbagai macam makanan. Vitamin C banyak terdapat pada sayuran dan buah seperti jeruk, pepaya,brokoli, hingga cabai, sedangkan zinc terdapat pada makanan kaya protein seperti daging, beragam boga bahari, dan kacang-kacangan. Saat berpuasa, seringkali konsumsi makanan termasuk buah, sayuran, hingga makanan kaya protein yang menjadi sumber vitamin C dan zinc juga  akan berkurang.  Jika hal ini terjadi,  mengonsumsi suplemen vitamin C dan zinc merupakan cara terbaik alternatif yang baik untuk mencegah Anda kekurangan nutrisi tersebut. Anda juga dapat memilih mengonsumsi multivitamin yang mengandung vitamin C dan zinc dalam satu tablet untuk mendapatkan kedua manfaatnya sekaligus.
Tips Memilih Suplemen Vitamin yang Tepat
Suplemen vitamin dan mineral menyediakan berbagai nutrisi yang juga ditemukan dalam makanan. Suplemen vitamin biasanya dalam bentuk kaplet, tablet kunyah, bubuk, dan cair. Berikut beberapa tips memilih suplemen yang disarankan:
  • Periksalah tanggal kadaluarsa yang terdapat dalam kemasan suplemen multivitamin, jangan dikonsumsi melebihi dari masa berlakunya.
  • Jika Anda lebih memilih membeli suplemen multivitamin golongan generik, maka pilihlah yang kandungannya sama dengan vitamin merek ternama.
  • Pastikan suplemen vitamin yang Anda beli telah terdaftar dari Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia.
  • Periksa kandungan suplemen vitamin yang terdapat pada label kemasan. Pastikan Anda tidak memiliki alergi terhadap kandungan tersebut.
Tak hanya di saat puasa, asupan vitamin dan nutrisi lainnya sangat dibutuhkan untuk membantu proses metabolisme dan meningkatkan energi selama beraktivitas. Untuk itu, Anda disarankan untuk melengkapi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, baik dari makanan ataupun suplemen vitamin. Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi ke dokter mengenai jenis dan dosis vitamin yang tepat untuk Anda.

sumber : http://www.alodokter.com/tingkatkan-sistem-imun-dan-atasi-lelah-saat-berpuasa-dengan-nutrisi-berikut